HEV vs PHEV: Mana Lebih Cocok untuk Konsumen Indonesia? Ini Penjelasan JAECOO
- account_circle Otokini
- calendar_month 6 jam yang lalu

Di tengah pesatnya adopsi kendaraan elektrifikasi di industri otomotif nasional, konsumen Indonesia kini dihadapkan pada beragam pilihan kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV). Dua teknologi yang paling sering menjadi bahan pertimbangan adalah Hybrid Electric Vehicle (HEV) dan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV).
Meski sama-sama menggabungkan mesin bensin dan motor listrik, keduanya memiliki perbedaan mendasar yang membuat karakter penggunaan dan keunggulannya tidak sama.
Business Unit Director Jim Ma dari JAECOO Indonesia menjelaskan bahwa pemahaman terhadap cara kerja kedua teknologi tersebut penting sebelum konsumen menentukan pilihan kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan mobilitas mereka.
“Karakter penggunaan, sistem kerja, serta keunggulannya pun berbeda. HEV memiliki dua sumber tenaga yaitu mesin bensin dan daya listrik, namun baterainya tidak dapat diisi melalui colokan eksternal. Sedangkan PHEV juga menggabungkan mesin konvensional dan motor listrik dari baterai, tetapi baterainya dapat diisi melalui sumber listrik eksternal sehingga kendaraan dapat beroperasi sebagai mobil listrik maupun mobil konvensional,” jelas Jim Ma.

HEV: Hybrid Praktis Tanpa Perlu Charging
Pada kendaraan Hybrid Electric Vehicle (HEV), sistem hybrid dirancang untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar tanpa mengubah kebiasaan berkendara pengguna.
Beberapa karakteristik utama HEV antara lain:
1. Baterai Terisi Otomatis Tanpa Colokan Listrik
Energi listrik pada baterai akan terisi secara otomatis melalui mesin bensin serta sistem regenerative braking, yaitu proses pengisian ulang energi saat kendaraan melakukan pengereman.
Kapasitas baterai pada kendaraan HEV umumnya relatif kecil, sekitar 1–2 kWh, sehingga tidak dirancang untuk menerima pengisian daya dari sumber listrik eksternal.
2. Mesin dan Motor Listrik Bekerja Bergantian
Motor listrik biasanya beroperasi pada kecepatan rendah atau saat kondisi lalu lintas padat. Sementara itu, mesin bensin akan bekerja ketika kendaraan membutuhkan tenaga lebih besar, seperti saat melaju di jalan tol atau menanjak.
3. Lebih Hemat BBM dan Praktis Digunakan
Sistem tersebut membuat HEV lebih efisien dibanding mobil konvensional. Selain itu, karena tidak membutuhkan pengisian daya eksternal, mobil ini tetap praktis digunakan bahkan di wilayah yang belum memiliki infrastruktur pengisian listrik yang memadai.

PHEV: Hybrid dengan Mode Listrik Murni
Sementara itu, Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) menghadirkan pendekatan yang berbeda dengan baterai berkapasitas lebih besar yang dapat diisi melalui sumber listrik eksternal.
Keunggulan utama PHEV antara lain:
1. Baterai Bisa Diisi Melalui Charger Eksternal
Pengisian daya dapat dilakukan melalui home charging maupun Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU). Hal ini memungkinkan pengguna memaksimalkan penggunaan tenaga listrik dalam aktivitas harian.
2. Mode Listrik Murni untuk Perjalanan Harian
Dengan kapasitas baterai yang lebih besar, kendaraan PHEV dapat digunakan dalam mode listrik murni untuk jarak tertentu sebelum mesin bensin mulai bekerja.
3. Tetap Fleksibel untuk Perjalanan Jarak Jauh
Ketika daya baterai habis, kendaraan tetap dapat beroperasi seperti mobil hybrid biasa dengan memanfaatkan mesin bensin. Fleksibilitas ini membuat PHEV cocok untuk penggunaan harian maupun perjalanan jarak jauh.
“Ketika konsumen sudah mengetahui perbedaan mendasar dari cara kerja dan keunggulan masing-masing sistem, langkah selanjutnya adalah menyesuaikan pilihan tersebut dengan kebutuhan mobilitas harian mereka,” tambah Jim Ma.

JAECOO Hadirkan Teknologi Super Hybrid System
Di Indonesia, JAECOO menghadirkan teknologi Super Hybrid System (SHS) melalui model JAECOO J7 SHS-P dan JAECOO J8 SHS-P ARDIS.
Teknologi ini merupakan pengembangan dari sistem PHEV yang dirancang untuk mengintegrasikan tenaga listrik dan mesin secara lebih cerdas, sehingga mampu menghadirkan efisiensi energi sekaligus performa yang responsif di berbagai kondisi berkendara.
Pada JAECOO J7 SHS-P, sistem tersebut memungkinkan kendaraan menempuh hingga sekitar 100 km dalam mode listrik murni, sehingga cocok untuk penggunaan harian di area perkotaan.
Sementara itu, JAECOO J8 SHS-P ARDIS menawarkan pengalaman berkendara lebih premium dengan dukungan hingga 19 fitur Advanced Driver Assistance System (ADAS), termasuk Adaptive Cruise Control dan Traffic Jam Assist yang membantu meningkatkan kenyamanan serta keselamatan berkendara.
Sebagai bagian dari ekosistem kendaraan elektrifikasi, JAECOO juga menghadirkan JAECOO J5 EV, kendaraan listrik murni yang ditujukan bagi konsumen yang ingin sepenuhnya beralih ke mobilitas ramah lingkungan.

JAECOO Mulai Menguat di Pasar Indonesia
Kehadiran JAECOO di Indonesia juga menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan data wholesales Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia pada Januari 2026, JAECOO J5 EV mencatat distribusi sebanyak 1.942 unit dan menjadi salah satu SUV listrik terlaris di Tanah Air.
Capaian tersebut sekaligus membawa JAECOO menembus peringkat sembilan besar merek mobil nasional.
Saat ini, jaringan JAECOO di Indonesia telah didukung oleh 25 dealer, termasuk pembukaan terbaru di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Selain itu, perusahaan juga menyiagakan 14 Dealer Siaga di rute utama mudik Lebaran dengan dukungan layanan bantuan darurat 24 jam untuk memastikan kenyamanan pelanggan selama perjalanan.
- Penulis: Otokini















