Membedah Dinamika dan Perkembangan Kendaraan Listrik di Indonesia
- account_circle Faza
- calendar_month Minggu, 6 Jul 2025

Populix, perusahaan riset berbasis teknologi asal Indonesia, bekerja sama dengan Forum Wartawan Otomotif (FORWOT) membedah dinamika dan perkembangan kendaraan listrik dalam diskusi di Dailah Sajian Nusantara, Jakarta Selatan, Selasa (1/7)
Diskusi tersebut menghadirkan BYD Indonesia, ALVA, dan National Battery Research Institute (NBRI), sebuah institut pengembang industri manufaktur baterai di Indonesia.
Susan Adi Putra, Associate Head of Research for Automotive Populix mengatakan, sejak mulai diperkenalkan di Indonesia tahun 2010-an, saat ini pasar kendaraan listrik di Indonesia sedang berkembang dengan sangat pesat.
“Menurut penelitian, pasar Indonesia sudah termasuk ke kategori “Emerging EV Markets”, melampaui negara berkembang lain yang masih dalam tahap awal. Namun, perkembangan ini bukan tanpa hambatan, ada beberapa tantangan yang masih harus dibereskan bersama khususnya dari sisi pengguna,” kata Adi.

Populix menemukan ada beberapa hambatan besar dalam adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Hambatan terbesar adalah kendala perawatan yang disebabkan keterbatasan jumlah bengkel yang menerima perbaikan kendaraan listrik.
Sementara William Kusuma, Head of CEO Office ALVA mengungkapkan bahwa untuk menanggulangi mesalah itu, mereka telah melakukan kerja sama dengan bengkel-bengkel di sekitar dealernya.
“Kami memastikan setidaknya ada empat bengkel yang bisa melayani kendaraan listrik di setiap satu buah dealer. Hingga saat ini ALVA telah mendukung hadirnya 46 bengkel yang mendukung servis kendaraan listrik di Indonesia,” ungkap William.

Harapannya langkah serupa juga bisa dilakukan oleh para pelaku industri kendaraan listrik lainnya, sehingga proses adopsi ini semakin lancar.
Selanjutnya adalah keterbatasan akses Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang menjadi hambatan terbesar kedua.
Hal ini terjadi karena saat ini mayoritas masyarakat masih bergantung pada SPKLU untuk mengisi daya kendaraan listrik mereka.
Menurut data Populix, setidaknya 63% pengguna kendaraan listrik roda empat dan 29% pengguna kendaraan listrik roda dua memilih untuk mengisi daya di SPKLU. Pengisian daya di SPKLU dipilih karena dinilai lebih cepat dibanding mengisi daya di rumah.

Prof. Dr. rer. nat. Evvy Kartini, Founder of National Battery Research Institute (NBRI), menyebutkan bahwa tantangan kendaraan listrik, tidak hanya dari infrastruktur pendukung seperti bengkel dan pengisian daya.
Lebih jauh dari itu, salah satu hal yang harus segera diteken oleh pemerintah adalah standarisasi baterai yang mendukung interoperabilitas.
“Saat ini jenis baterai dan piranti pengisian daya masih terbatas kepada merek kendaraan masing-masing, sehingga menyulitkan dalam pengisian daya di stasiun pengisian daya lain. Harapannya dengan standarisasi yang sama, masyarakat semakin mudah untuk me-charge kendaraan listrik mereka, dan kemudian mendorong adopsi kendaraan listrik,” jelasnya.

Hal yang menjadi sorotan adalah kemampuan baterai yang kini digunakan berbagai merek atau model untuk dapat digunakan secara bergantian atau saling dipertukarkan dalam sistem yang sama.
Standard ukuran baterai yang belum sama juga merupakan salah satu aspek penting untuk diperhatikan karena akan mendukung interoperabilitas baterai yang digunakan.
Hal ini menjadi sangat signifikan karena dapat memampukan pengisian daya baterai di berbagai stasiun pengisian tanpa dibatasi oleh merek kendaraan listrik yang digunakan.
Tak hanya itu, Professor Evvy juga menyoroti keamanan baterai yang saat ini belum teregulasi dengan baik, walaupun adaSNI sertifikasi untuk keamanannya.

Melalui diskusi ini, pihak Populix berharap ada kemajuan dalam pengembangan kendaraan listrik dan baterai termasuk memeberikan inside kepada para pengguna kendaraan ramah lingkungan itu.
“Harapannya, diskusi yang juga dihadiri oleh para pelaku industri kendaraan bermotor ini dapat semakin mendorong pengembangan lanskap juga adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Dengan tujuan akhir mendukung upaya pemerintah dalam menanggulangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil,” tutup Susan Adi Putra.
- Penulis: Faza














