Hadapi Dinamika Pasar Otomotif Nasional, Begini Rencana Mazda
- account_circle lolly
- calendar_month Sabtu, 27 Des 2025

Menjelang akhir 2025, pasar otomotif Indonesia bergerak dalam pola yang semakin kompleks. Pergeseran daya beli, perubahan preferensi konsumen, serta kompetisi yang kian ketat memaksa merek otomotif untuk tidak hanya adaptif, tetapi juga memiliki arah strategi yang jelas.
Data GAIKINDO kuartal III 2025 serta analisis PwC Indonesia menunjukkan bahwa struktur permintaan kendaraan mengalami perubahan signifikan.
Sejumlah segmen melemah, sementara segmen lain justru menunjukkan ketahanan. Konsumen Indonesia kini tidak lagi sekadar mencari kendaraan fungsional, tetapi solusi mobilitas yang mampu menjawab kebutuhan rasional sekaligus aspirasi personal.

Ricky Thio, Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia, keputusan membeli mobil saat ini bersifat multidimensional.
“Mobil tetap menjadi means of mobility, tetapi juga menjadi medium untuk meningkatkan kualitas hidup. Sejalan dengan filosofi Mazda, the joy of driving may create the joy of living,” kata Ricky.
Di tengah perlambatan pasar, Mazda berhasil menjaga performa relatif stabil. Pada Oktober 2025, penurunan market share Mazda tercatat hanya 0,12 persen-lebih rendah dibanding beberapa merek Jepang lain yang terkoreksi hingga 2–3 persen.

Di segmen premium, saat sejumlah merek mengalami kontraksi retail hingga 40 persen, Mazda berada di kisaran 29 persen, ditopang oleh performa CX-5, CX-3, dan Mazda3 Hatchback.
“Emotional appeal adalah kekuatan Mazda. Konsumen membeli bukan hanya dengan logika, tetapi juga karena keterikatan terhadap desain dan kualitas berkendara,” tambah Ricky.
Mazda melihat perubahan perilaku konsumen Indonesia bertumpu pada dua fondasi utama: rasional dan emosional.

Dari sisi rasional, konsumen semakin memperhitungkan Total Ownership Cost (TOC)-mulai dari biaya perawatan, aftersales, hingga nilai jual kembali.
Namun faktor tersebut kini berjalan seiring dengan aspek emosional, seperti desain, kenyamanan, dan pengalaman berkendara.
Filosofi KODO Design dan Jinba Ittai menjadi pembeda Mazda dalam membangun ikatan antara pengemudi dan kendaraan.

Mobil tidak sekadar alat transportasi, melainkan partner yang memberikan rasa percaya diri dan kenikmatan berkendara.
Memasuki 2026, Mazda memproyeksikan pemulihan pasar secara bertahap. Semester pertama diperkirakan masih stabil, dengan peluang akselerasi pada paruh kedua tahun, seiring membaiknya daya beli dan terciptanya ekosistem industri yang lebih sehat.
Mazda akan memperkuat strategi segmentasi, menyasar konsumen yang mengutamakan kenyamanan, desain berkarakter, dan nilai emosional dalam kepemilikan kendaraan. Sejumlah model baru-mayoritas SUV-juga disiapkan untuk menjawab kebutuhan pasar Indonesia.

Komitmen jangka panjang turut ditegaskan melalui pembangunan Training Center baru guna memperkuat kualitas penjualan dan layanan purna jual.
“Mazda hadir bukan sekadar sebagai brand, tetapi sebagai ekosistem yang mendukung pengalaman pemilik secara menyeluruh,” tutup Ricky.
- Penulis: lolly













