JAECOO Klaim J5 EV Bisa Hemat Biaya Operasional hingga 88 Persen Dibanding Mobil Bensin Turbo
- account_circle Agus
- calendar_month Jumat, 19 Jun 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tren penggunaan kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV) terus berkembang di Indonesia. Selain berkontribusi terhadap pengurangan emisi dan keberlanjutan lingkungan, kendaraan elektrifikasi kini juga semakin diminati karena menawarkan efisiensi biaya operasional yang signifikan dibandingkan kendaraan bermesin konvensional.
Melalui jajaran produk elektrifikasinya, JAECOO mengklaim mampu memberikan penghematan biaya penggunaan kendaraan hingga puluhan persen. Bahkan, mobil listrik JAECOO J5 EV disebut mampu menghemat biaya operasional hingga 88 persen dibandingkan mobil bermesin bensin 1.500 cc turbo.
Menurut simulasi yang disampaikan JAECOO, kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE) 1.500 cc turbo dengan rata-rata jarak tempuh 50 kilometer per hari atau sekitar 1.500 kilometer per bulan membutuhkan biaya bahan bakar sekitar Rp 81.250 per hari dengan asumsi harga bensin RON 92 sebesar Rp16.250 per liter.
Dalam satu bulan, biaya bahan bakar tersebut mencapai sekitar Rp 2,5 juta. Jika ditambah biaya perawatan kendaraan sebesar Rp2 juta per tahun, total biaya operasional kendaraan dapat mencapai sekitar Rp 31,25 juta per tahun.
Sebaliknya, pengguna JAECOO J5 EV hanya membutuhkan biaya energi sekitar Rp 9.600 per hari dengan asumsi tarif listrik Rp 1.700 per kWh. Biaya pengisian daya per bulan diperkirakan sekitar Rp 290 ribu, sementara biaya perawatan tahunan hanya sekitar Rp 500 ribu.

Dengan demikian, total biaya operasional tahunan JAECOO J5 EV diperkirakan hanya sekitar Rp 4 juta, atau setara penghematan hingga 88 persen dibandingkan kendaraan bensin turbo dengan penggunaan serupa.\
Tidak hanya kendaraan listrik murni, JAECOO juga menawarkan teknologi Super Hybrid System (SHS) melalui model Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) yang diklaim mampu menghadirkan efisiensi bahan bakar sekaligus performa optimal.
Untuk model JAECOO J7 SHS-P, biaya operasional harian diperkirakan hanya sekitar Rp 18.100 atau Rp 543 ribu per bulan. Dengan tambahan biaya perawatan sekitar Rp 1,7 juta per tahun, total biaya penggunaan kendaraan ini hanya sekitar Rp 8,2 juta per tahun, atau hemat hingga 80 persen dibandingkan mobil bensin turbo.
Sementara itu, JAECOO J8 SHS-P ARDIS menawarkan biaya operasional sekitar Rp 22.300 per hari atau Rp 670 ribu per bulan. Dengan biaya perawatan tahunan sekitar Rp2 juta, total pengeluaran tahunan diperkirakan mencapai Rp 10 juta, yang berarti memberikan penghematan hingga 75 persen.

Jim Ma, Business Unit Director JAECOO Indonesia mengatakan, teknologi SHS tidak hanya berfokus pada efisiensi, tetapi juga tetap mengedepankan performa berkendara. Teknologi SHS tak hanya menawarkan efisiensi, tetapi tetap memberikan performa berkendara maksimal.
“Kami pun menawarkan kepada konsumen, jika dengan NEV JAECOO, konsumen dapat mendapatkan efisiensi lebih. Seperti mobil listrik J5 EV yang dapat menghemat mencapai 88 persen biaya. J7 SHS-P dapat menghemat 80 persen dan J8 SHS-P ARDIS bisa hemat 75 persen,” ujar Jim Ma.
Selain menyoroti efisiensi biaya, JAECOO juga mengungkapkan performa penjualan J5 EV yang diklaim menunjukkan tren positif sepanjang tahun 2026.
Berdasarkan data yang disampaikan perusahaan mengacu pada data GAIKINDO, JAECOO J5 EV mencatat penjualan wholesales dan retail sales sebanyak 1.942 unit pada Januari 2026. Angka tersebut meningkat menjadi 2.926 unit pada Februari.

Pada Maret 2026, penjualan wholesales mencapai 2.959 unit dengan retail sales sebanyak 2.775 unit. Tren positif berlanjut pada April dengan penjualan wholesales 3.179 unit dan retail sales 2.944 unit.
Sementara pada Mei 2026, J5 EV membukukan penjualan wholesales dan retail sales masing-masing sebanyak 3.000 unit. Berkat capaian tersebut, JAECOO disebut berhasil masuk ke dalam jajaran lima besar merek mobil terlaris di Indonesia pada Mei 2026.
Menurut Jim Ma, penerimaan pasar yang positif menunjukkan bahwa produk-produk JAECOO semakin diterima oleh konsumen Indonesia.
“Konsumen melihat produk kami sebagai mobil yang memang dibutuhkan dan menjadi pilihan mereka untuk berkendara. Teknologi yang kami tawarkan dapat dimiliki dan dinikmati oleh konsumen,” tambahnya.
Seiring pertumbuhan pasar kendaraan energi baru di Indonesia, JAECOO juga terus memperluas jaringan penjualan dan layanan purna jual guna meningkatkan kenyamanan pelanggan.

Saat ini, JAECOO telah memiliki 35 dealer yang beroperasi di berbagai wilayah Indonesia. Perusahaan menargetkan jumlah tersebut akan bertambah menjadi 80 dealer hingga akhir tahun 2026.
Langkah ekspansi tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang JAECOO untuk memperkuat kehadiran merek di Indonesia sekaligus memastikan konsumen mendapatkan layanan penjualan dan purna jual yang semakin mudah dijangkau.
Dengan kombinasi teknologi elektrifikasi, efisiensi biaya operasional, serta perluasan jaringan dealer yang agresif, JAECOO optimistis dapat terus memperkuat posisinya di tengah pertumbuhan pasar kendaraan energi baru yang semakin kompetitif di Indonesia.
- Penulis: Agus